Surosowan.id – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat manusia semakin mudah memperoleh informasi. Namun, kemudahan tersebut juga menuntut kemampuan untuk memilah informasi, membedakan fakta dari informasi yang menyesatkan, serta memahami keterbatasan pengetahuan.

Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam diskusi buku 21 Lessons for the 21st Century karya Yuval Noah Harari yang digelar Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Cengkok Cerdas Mandiri bersama Ikatan Pemuda Pemudi Cengkok (IPPC) di Lapangan IPPC, Cengkok, Sentul, Balaraja, Kabupaten Tangerang, Sabtu, 19 September 2026.

Buku tersebut membahas perubahan besar yang terjadi akibat kecerdasan buatan, otomatisasi, bioteknologi, dan pengolahan data. Perubahan itu tidak hanya berdampak pada pekerjaan, tetapi juga memengaruhi cara manusia memahami dunia dan dirinya sendiri.

Dalam kondisi informasi yang semakin melimpah, pendidikan dinilai tidak cukup hanya mengajarkan manusia untuk menghafal pengetahuan. Kemampuan memilih informasi yang penting, menghubungkan berbagai informasi, dan melihat persoalan secara menyeluruh menjadi semakin diperlukan.

Pembedah buku, Ade Irawan, mengatakan perubahan teknologi yang berlangsung cepat membuat manusia perlu memiliki kemampuan belajar sepanjang hidup. Fleksibilitas mental dan kemampuan beradaptasi diperlukan karena kondisi dunia yang akan dihadapi generasi mendatang belum tentu sama dengan kondisi saat ini.

“Pendidikan di masa depan bukan tentang mempersiapkan anak menghadapi dunia yang kita kenal, tetapi mempersiapkan mereka menghadapi dunia yang belum kita ketahui.”

Menurut pembahasan dalam buku Harari, tantangan teknologi bukan semata-mata hilangnya sejumlah jenis pekerjaan. Otomatisasi juga berpotensi membuat sebagian manusia kehilangan relevansi secara ekonomi dan sosial apabila tidak memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan.

Karena itu, kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu bekal penting. Manusia perlu mampu menguji informasi yang diterima, mengenali informasi yang keliru, sekaligus menyadari bahwa pengetahuan yang dimiliki memiliki batas.

Diskusi yang dimoderatori mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Alin Febrian, itu dihadiri Ketua IPPC Ilham Roza, Ketua RT Moch. Sidik, tokoh agama Ubaidilah MD, tokoh pendidikan Saripudin Zuhri, serta mahasiswa, guru, pelajar, dan pemuda di wilayah Sentul, Balaraja.

Kegiatan tersebut merupakan agenda literasi yang digelar secara rutin dua pekan sekali melalui kolaborasi TBM Cengkok Cerdas Mandiri dan IPPC.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here