Surosowan.id – Sebuah rumah tua di Jalan H.S. Jayadiningrat, Kelurahan Lontar Baru, Kota Serang, Banten, menyimpan jejak kehidupan masyarakat pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan. Foto-foto lama, buku resep, catatan keuangan keluarga, peralatan rumah tangga, dan benda-benda kesenian menjadi bagian dari cerita yang kini dirawat di Umah Budaya Kaujon.
Rumah bergaya arsitektur kolonial itu memiliki kaitan dengan keluarga Djajadiningrat, salah satu keluarga priyayi yang memiliki kedudukan penting pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Setelah ditempati keluarga tersebut dan mengalami beberapa kali pergantian kepemilikan, bangunan itu kini dikelola Syalita Fawnia Rachman.
Di dalam rumah, pengunjung tidak hanya menemukan peninggalan keluarga, tetapi juga dapat mengenal sejarah pendidikan, kehidupan domestik, dan perkembangan kebudayaan di Serang. Berbagai benda yang semula menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kini disusun untuk menceritakan kembali masa lalu.
Syalita bercerita, awal mula rumah tersebut dijadikan ruang publik dan museum berangkat dari proses renovasi bangunan keluarga. Saat renovasi berlangsung, mereka menemukan banyak peninggalan dan benda bersejarah yang menyimpan cerita menarik.
”Ketika kami renovasi, ternyata menemukan banyak hal menarik. Sejarahnya juga panjang. Jadi, sayang kalau masyarakat tidak tahu cerita tentang rumah ini,” kata Syalita menjelaskan.
Nama Kaujon sendiri merujuk pada nama kampung tua yang berada di Kota Serang. Nama Kaujon diambil dari salah satu tokoh masyarakat di wilayah tersebut pada masa kolonial, yakni Ki Uju, seorang kiai yang masih keturunan Kesultanan Banten.
Kawasan ini juga memiliki keterkaitan erat dengan keberadaan Sungai Cibanten yang berada tidak jauh dari bangunan Umah Budaya Kaujon.
Pada masa lalu, Sungai Cibanten mempunyai peran penting sebagai jalur transportasi dan aktivitas perdagangan. Sungai tersebut menjadi penghubung masyarakat dari wilayah pedalaman menuju kawasan perkotaan.
Syalita menceritakan, dahulu hasil bumi dari berbagai wilayah dibawa melalui sungai untuk diperdagangkan di kawasan yang dikenal sebagai Pasar Sore.
Aktivitas tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa Serang pada masa lalu memiliki hubungan perdagangan dan mobilitas masyarakat yang cukup ramai.
”Serang ternyata punya cerita yang luar biasa. Setelah dicari tahu, kita baru menyadari betapa pentingnya kawasan ini dalam sejarah Banten,” katanya.
Keberadaan rumah tersebut juga telah tercatat dalam peta lama Kaart van de Hoofplaats, yang diperkirakan dibuat pada 1887. Catatan tersebut menjadi salah satu petunjuk bahwa bangunan itu telah berdiri sejak masa kolonial.
Informasi mengenai tahun keberadaan rumah tersebut juga tercantum dalam dokumentasi resmi Umah Budaya Kaujon.
Rumah yang Menyimpan Cerita Pendidikan
Memasuki ruangan pertama, pengunjung diperkenalkan dengan perjalanan keluarga Syalita, terutama sang kakek, Mas Rachman yang pernah menjabat sebagai kepala Sekolah Guru Bawah (SGB) di Serang. Pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan, sekolah guru menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan tenaga pendidik. SGB merupakan lembaga pendidikan yang mempersiapkan calon guru untuk mengajar di sekolah rakyat.

Keberadaan SGB di Serang membuat kota ini menjadi salah satu tujuan pendidikan bagi masyarakat dari berbagai daerah. Tidak hanya berasal dari Serang, para murid dan tenaga pengajar juga datang dari wilayah lain, termasuk daerah di sekitar Banten.
Rumah keluarga Syalita pun pernah menjadi tempat tinggal sejumlah guru dan murid yang datang dari luar daerah.
Dari cerita tersebut, Umah Budaya Kaujon mencoba mengangkat pendidikan sebagai salah satu tema penting dalam sejarah rumah.
”Kalau saya melihat perjalanan keluarga, pendidikan memang menjadi salah satu hal yang sangat penting. Saya melihat bagaimana orang tua saya menjalani hidup dengan disiplin dan sangat teratur,” tutur Syalita.
Mengabadikan Kehidupan Perempuan dalam Benda-Benda Lama
Beranjak ke ruangan berikutnya, pengunjung diajak mengenal kehidupan domestik keluarga, terutama peran perempuan dalam rumah tangga.
Di ruangan tersebut terdapat sejumlah peninggalan milik nenek Syalita. Mulai dari buku resep masakan, buku pola pakaian, mesin jahit, hingga catatan keuangan keluarga.

Benda-benda tersebut menjadi rekaman sederhana tentang kehidupan perempuan pada masa lampau.
Syalita menjelaskan, perempuan pada masa itu memiliki tanggung jawab yang cukup besar dalam mengelola rumah tangga. Mereka tidak hanya memasak dan mengurus keluarga, tetapi juga menjahit pakaian hingga mengatur keuangan rumah.
Salah satu benda yang menarik perhatiannya adalah kumpulan buku resep masakan lama yang ditemukan ketika keluarga membersihkan rumah.
Buku-buku tersebut berisi berbagai resep dari beragam tradisi kuliner, mulai dari masakan lokal, Nusantara, Tionghoa, Arab, hingga Eropa.
Keberagaman resep itu menunjukkan adanya perjumpaan berbagai kebudayaan dalam kehidupan masyarakat pada masa tersebut. Syalita bahkan berkeinginan mengembangkan koleksi resep lama itu menjadi kegiatan yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat.
Selain buku resep, terdapat pula catatan keuangan keluarga yang memperlihatkan pengeluaran rumah tangga dari waktu ke waktu.
Kebudayaan sebagai Bagian dari Kehidupan Keluarga
Selain pendidikan dan kehidupan domestik, Umah Budaya Kaujon juga menyimpan berbagai koleksi yang berkaitan dengan kesenian dan kebudayaan.
Di salah satu ruangan, pengunjung dapat melihat koleksi alat musik, kaset, radio lama, hingga sejumlah benda seni tradisional. Syalita mengatakan, musik menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan keluarganya. Ia mengenal berbagai jenis musik melalui ayahnya yang memiliki ketertarikan terhadap dunia musik.

Sementara itu, koleksi benda seni tradisional juga berkaitan dengan keluarga Djajadiningrat yang pernah menghuni rumah tersebut. Salah satunya berupa koleksi Gamelan Cirebon.
Jejak Keluarga Djajadiningrat
Salah satu ruangan terakhir didedikasikan untuk mengenalkan sejarah keluarga Djajadiningrat, keluarga yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan sejarah Banten. Keluarga ini dikenal melahirkan sejumlah tokoh yang pernah menduduki posisi penting dalam pemerintahan, pendidikan, dan pergerakan nasional.
Di antara tokoh yang diperkenalkan adalah Hasan Djayadiningrat yang merupakan Ketua Sarekat Islam Banten. Hasan Djajadiningrat lahir tahun 1883, anak ketiga dari pasangan Raden Bagoes Djajawinata, bupati Serang (1893-1899) dan Ratoe Salechah. Dia adalah adik dari Achmad Djajadiningrat, bupati Serang (1899-1924) dan bupati Batavia pertama (1924-1929).
Syalita menjelaskan, perjalanan keluarga Djajadiningrat menjadi salah satu inspirasi dalam membangun narasi museum. Baginya, hal yang ingin ditonjolkan bukan sekadar nama besar dan jabatan para tokoh tersebut, melainkan nilai-nilai yang diwariskan dalam keluarga, terutama perhatian terhadap pendidikan dan kontribusi kepada masyarakat.
Ia juga menceritakan bagaimana keluarga besar Djajadiningrat hingga kini masih menjaga hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan Banten.
Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu nilai penting yang terus ditanamkan dalam keluarga tersebut. Setiap generasi diharapkan memiliki keahlian dan bidang pengabdian yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
”Yang ingin saya tekankan sebenarnya adalah nilai-nilai yang mereka terapkan dalam keluarga. Bagaimana pendidikan menjadi salah satu pilar penting sehingga mereka bisa menjadi orang-orang yang berkontribusi bagi masyarakat,” ujar Syalita.
Dari Rumah Keluarga Menjadi Ruang Publik
Perjalanan Umah Budaya Kaujon tidak berhenti pada upaya merawat bangunan tua dan mengumpulkan benda-benda bersejarah. Syalita memiliki harapan agar rumah tersebut berkembang menjadi rumah komunitas yang dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkarya, berdiskusi, belajar, dan mengembangkan kegiatan kebudayaan.
Gagasan itu sejalan dengan perjalanan Umah Budaya Kaujon yang mulai direvitalisasi pada 2016. Kemudian, pada 2021, rumah tersebut resmi dikembangkan menjadi ruang kebudayaan yang memfasilitasi berbagai kegiatan seni, diskusi, dan pendidikan nonformal.
Pada 2025, museum di dalam Umah Budaya Kaujon juga mulai diperkenalkan kepada publik sebagai ruang untuk mendokumentasikan sejarah rumah dan kisah para penghuninya. Bagi Syalita, keberadaan museum bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda lama. Lebih dari itu, museum diharapkan menjadi ruang belajar yang mampu menghubungkan generasi sekarang dengan perjalanan sejarah masyarakatnya.
Ia berharap anak-anak muda tidak kehilangan kedekatan dengan sejarah dan kebudayaan daerah sendiri.
Sebab, menurutnya, sejarah bukan hanya tentang mengingat peristiwa yang telah berlalu, melainkan juga memahami nilai-nilai yang dapat dipelajari untuk kehidupan sekarang.
”Sejarah adalah tempat kita belajar. Apa yang baik bisa diambil, sementara yang buruk bisa ditinggalkan. Mudah-mudahan rumah ini bisa memotivasi dan menginspirasi anak-anak muda agar tidak lupa dengan sejarahnya,” katanya.
Penulis: Ukat Saukatudin



