Pagi setelah banjir dan longsor menerjang Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, bukan hanya jalan dan rumah yang terendam. Di sejumlah wilayah, jaringan telepon dan internet ikut menghilang. Bagi warga, kehilangan sinyal berarti kehilangan salah satu cara paling sederhana untuk memastikan apakah keluarga mereka selamat, mencari informasi, atau meminta bantuan.
Di Desa Sorkam Kanan, Kecamatan Sorkam Barat, pengalaman itu berlangsung selama berhari-hari.

Imran Irsyadi, 28 tahun, masih mengingat tanggal 25 November 2025. Hari ketika banjir dan longsor melanda wilayahnya juga menjadi hari ketika seluruh operator seluler di tempatnya berhenti berfungsi.
Sebelum bencana, warga Sorkam Kanan masih dapat menggunakan berbagai operator seluler. Imran sendiri menggunakan Telkomsel. Namun setelah bencana datang, jaringan dari semua operator ikut padam. Menurut Imran, gangguan itu berlangsung sekitar 14 hari.
Di rumah yang sama, saudara kandung Imran sedang sakit.
Lima hari setelah bencana, pada dini hari 30 November, saudaranya meninggal dunia.
Dalam keadaan jaringan seluler yang lumpuh, kabar kematian itu tidak mudah disampaikan kepada sanak saudara.
“Dengan payahnya sinyal seluler, menghubungi sanak saudara pun susah,” kata Imran dalam wawancara.
Selama lebih dari seminggu setelah bencana, listrik dan jaringan masih padam. Starlink milik sejumlah perkantoran dan warga menjadi salah satu akses yang tersedia, tetapi tidak serta-merta membuat seluruh warga kembali terhubung. Bagi Imran, pengalaman itu memperlihatkan bahwa komunikasi darurat seharusnya tidak baru dipikirkan ketika bencana telah terjadi.
“Telekomunikasi darurat daerah rawan bencana sudah layaknya difasilitasi oleh pemerintah,” ujarnya.
Ia juga mengatakan bahwa selama masa gangguan, dirinya kesulitan memperoleh informasi terbaru mengenai kondisi setelah bencana.
Pengalaman Imran memperlihatkan sisi paling personal dari hilangnya jaringan: ketika seseorang membutuhkan telepon bukan untuk membuka media sosial atau mengirim pesan biasa, tetapi untuk menyampaikan kabar kematian kepada keluarga.
Namun, di Sorkam Kanan, pengalaman tersebut tidak hanya dialami satu keluarga.
Septi Khairani Hutapea, 23 tahun, juga harus berhadapan dengan jaringan yang tak kunjung stabil. Operator yang digunakannya adalah Telkomsel. Selama sekitar tiga minggu setelah bencana, jaringan hanya muncul sesekali.
“Hilang timbul,” begitu ia menggambarkan kondisi sinyal di tempatnya.
Ketika sinyal menghilang, Septi pergi berjalan sejauh 4 – 5 Kilometer ke dataran yang lebih tinggi untuk mencarinya. Tujuannya untuk menghubungi kerabat yang berada di daerah lain dan juga meminta bantuan. Tetapi upaya itu tidak selalu berhasil. Listrik juga padam dan baterai teleponnya akhirnya habis.
Di tengah keadaan itu, warga mencari cara lain untuk menjaga perangkat mereka tetap menyala. Mereka mendatangi rumah yang memiliki genset. Untuk mengisi daya satu telepon hingga penuh, warga harus membayar Rp5.000.
Sementara telepon mereka belum kembali terhubung, informasi tentang keadaan kampung juga datang dengan cara yang jauh lebih sederhana. Sekitar satu minggu setelah bencana, kabar mulai dibawa oleh anak-anak rantau yang pulang ke kampung untuk melihat kondisi keluarga mereka.
Bagi Septi, pengalaman tersebut meninggalkan kekhawatiran bahwa situasi yang sama dapat terulang.
“Harus sigap memberi bantuan telekomunikasi apalagi di saat bencana yang terjadi karena itu sangat penting,” katanya.
Di tempat lain, Depi Sapitri Tanjung, 23 tahun, mengalami bentuk keterputusan yang berbeda
Saat bencana terjadi, Depi sedang berada di tempat kos yang berjarak sekitar dua jam dari rumahnya karena sedang kuliah. Ia menggunakan operator XL. Ketika banjir datang, jaringan tiba-tiba benar-benar terputus. Semua operator di wilayahnya, menurut pengalamannya, ikut mati.
Awalnya Depi mengira banjir yang terjadi hanya akan berlangsung seperti kejadian biasa. Namun ketika keluar dari lingkungan tempat tinggalnya, ia melihat banjir yang jauh lebih besar dari perkiraannya.
Di saat yang sama, satu hal yang paling ia tunggu justru tidak kunjung datang: kabar dari rumah.
“Saya masih berharap jaringan segera cepat pulih agar dapat mengabari orang tua di rumah,” tuturnya dalam wawancara.
Hari-hari berikutnya dilalui dengan kabar dari mulut ke mulut. Depi mendengar bahwa hampir seluruh wilayah Tapanuli Tengah terdampak banjir dan longsor. Pikiran semakin bercampur aduk karena rumahnya berada dekat sungai. Ia tidak tahu bagaimana keadaan orang tua dan keluarganya di Sorkam Kanan.
Selama empat hari, Depi masih berada jauh dari rumah. Persediaan makanan terbatas dan banyak tempat tidak lagi menjual makanan. Ia mengatakan setiap hari hanya makan mi instan. Uang yang tersimpan di rekening pun tidak dapat diambil karena jaringan dan listrik padam. ATM tidak bisa digunakan saat itu untuk menarik uang.
Empat hari kemudian, orang tuanya berhasil menjemputnya dan membawanya pulang.
Sesampainya di kampung, yang ia temukan bukan lagi rumah yang ia kenal sebelumnya. Rumah keluarganya yang selama ini tidak pernah tersentuh banjir telah terendam. Lumpur tebal memenuhi bagian dalam rumah dan meninggalkan kerusakan.
Namun bahkan setelah kembali ke rumah, komunikasi belum pulih.
Selama sekitar dua minggu, Depi dan keluarganya sulit berkomunikasi keluar. Listrik di kampungnya bahkan baru pulih sekitar satu bulan setelah bencana. Untuk mengisi daya telepon, warga mendatangi rumah tetangga yang memiliki genset. Ketika tempat tersebut terlalu ramai, mereka berpindah ke masjid yang juga menyediakan tempat untuk mengisi daya.
Untuk mendapatkan informasi, warga kembali mengandalkan manusia sebagai perantara.
Setelah hampir dua minggu, seorang tetangga menemukan titik yang masih memungkinkan untuk melakukan panggilan telepon non-internet di area persawahan. Dari sana, pesan mulai dititipkan dari satu orang ke orang lain untuk mencapai keluarga yang berada jauh.
Sinyal yang biasanya datang tanpa perlu dicari, kini harus ditemukan dengan berjalan ke tempat tertentu. Pesan yang biasanya tiba dalam hitungan detik harus dititipkan kepada orang lain. Dan kabar mengenai keluarga yang biasanya hanya membutuhkan satu panggilan telepon berubah menjadi perjalanan dari rumah ke rumah.
Depi mengatakan informasi resmi juga sulit diperoleh. Banyak kabar hanya terdengar dari mulut ke mulut sehingga warga kesulitan mengetahui informasi mana yang dapat dipercaya.
Ia berharap pengalaman tersebut tidak kembali terjadi jika bencana lain datang.
Gangguan telekomunikasi pasca bencana banjir dan longsor di Sumatra tercatat dalam skala besar. Pada 27 November 2025, Komdigi mencatat 495 site BTS mengalami gangguan di Sumatra Utara, termasuk 167 site di Tapanuli Tengah. Jumlah itu terus meningkat hingga mencapai 3.380 BTS di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada 2 Desember. Per 10 Desember, sebanyak 743 BTS telah kembali beroperasi, tetapi 2.637 BTS masih terdampak. Pemulihan belum sepenuhnya selesai pada 19 Desember: jaringan di Sumatra Utara telah mencapai 97,35 persen pemulihan, sementara Sumatra Barat 99,14 persen.
Cerita Gangguan Telekomunikasi pada Bencana Gempa di NTT
Kejadian serupa kembali terulang saat gempa Magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026. Komdigi mencatat 200 site atau BTS terganggu di 10 kabupaten dan kota pada hari kejadian, tersebar di jaringan Telkomsel, XLsmart, dan Indosat. Pemerintah mengidentifikasi gangguan pasokan listrik dan jaringan transmisi sebagai salah satu penyebabnya.

Beberapa hari kemudian, jumlah site yang teridentifikasi terdampak mencapai 812 BTS di 11 kabupaten/kota. Pada 18 Agustus, Komdigi menyatakan 99,9 persen BTS terdampak telah dipulihkan dan tersisa satu site yang masih dalam proses perbaikan.
Di Maumere, Maya Foang, 26 tahun, tinggal sendirian. Keluarganya berada di Kupang, di pulau yang berbeda. Ketika gempa mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026, salah satu hal pertama yang ia pikirkan adalah mengabari orang tuanya.
Setelah gempa pertama, Maya masih sempat mengirim pesan. Namun pesan tidak selalu langsung terkirim. Ketika gempa susulan terjadi, komunikasi semakin sulit. Listrik padam sejak sekitar pukul enam pagi hingga siang hari. Di luar ruangan, teleponnya masih menunjukkan satu hingga dua batang sinyal, tetapi koneksi tidak selalu dapat digunakan dengan baik.
Menurut pengalaman Maya, pengguna Telkomsel masih relatif dapat terhubung, sementara sejumlah operator lain mengalami gangguan yang lebih berat. Namun memiliki sinyal tidak selalu berarti memiliki akses komunikasi. Pesan dapat tertunda, informasi tidak segera masuk, dan panggilan tidak selalu tersambung.
Bagi Maya, gangguan itu kemudian masuk ke persoalan yang lebih sehari-hari: pekerjaannya.
Ia kesulitan mengirim bukti kondisi gempa kepada kantor pusatnya di Jakarta. Foto dan informasi mengenai apa yang terjadi di Maumere tidak bisa segera dikirim. Di saat orang-orang di sekitarnya sedang berusaha memahami apa yang terjadi, Maya juga harus berhadapan dengan kesulitan menjelaskan situasi di tempatnya kepada orang-orang yang berada jauh dari lokasi bencana.
Di luar persoalan pekerjaan, ada sesuatu yang lebih membuatnya gelisah. Berita mengenai kondisi sekitar tidak langsung diperbarui. Maya mengatakan informasi lebih banyak berpindah dari satu orang ke orang lain.
“Beritanya tidak langsung ter-update. Jadi kita dengar update keadaan itu dari omongan-omongan langsung. Jadi antarwarga saling komunikasi,” ujarnya.
Di kawasan pesisir, informasi yang beredar bahkan sempat simpang siur. Ada kabar mengenai kemungkinan tsunami yang membuat warga panik. Ketika membutuhkan informasi mengenai lokasi pengungsian, Maya tidak mendapatkan informasi resmi yang bisa ia akses. Warga justru saling memberi tahu mengenai tempat yang dianggap aman.
“Untuk informasi pengungsian dan lain-lain itu jujur tidak ada informasi resmi. Tapi kita taunya karena dari omongan-omongan warga sekitar,” katanya.
Ketika listrik dan jaringan sama-sama terganggu, warga kembali menjadi saluran informasi. Orang yang pergi ke tempat lebih ramai atau ke lokasi pengungsian akan membawa kabar ketika kembali. Mereka menceritakan wilayah mana yang terdampak, bagian mana yang mengalami kerusakan, dan bagaimana kondisi warga di tempat lain.
Tidak ada radio. Tidak ada HT. Tidak ada Starlink yang tersedia di lingkungan tempat Maya berada. Ketika jaringan menghilang, warga hanya menunggu sampai layanan komunikasi kembali tersedia. Sebagian mengandalkan genset milik warga agar telepon tetap dapat digunakan.
Dalam situasi seperti itu, jarak terasa menjadi lebih panjang. Informasi yang biasanya hanya membutuhkan beberapa detik untuk berpindah dari satu telepon ke telepon lain harus dibawa secara fisik oleh seseorang.
Pengalaman serupa dirasakan oleh Herry Kabut, reporter sekaligus editor di Floresa. Bagi Herry, gangguan jaringan setelah gempa tidak hanya menyulitkan warga, tetapi juga mengubah cara sebuah media bekerja di tengah bencana.
Pada pagi 15 Agustus, listrik dan telekomunikasi di Labuan Bajo menurut pengalamannya ikut terganggu. Jaringan tidak sepenuhnya hilang, tetapi menjadi sangat sulit digunakan. WhatsApp masih bisa mengirim pesan, meski lambat. Panggilan suara dan video call sulit dilakukan. Selama beberapa jam, foto dan video dari lapangan juga tidak mudah dikirim.
Para reporter Floresa sebenarnya telah bergerak untuk melihat situasi di lapangan. Mereka ingin mengetahui kerusakan, dampak gempa, dan kondisi warga di wilayah terdampak. Bahkan, Floresa sempat membuat Google Form agar warga dapat melaporkan kondisi mereka dan menjadikan media tersebut sebagai pusat informasi gempa.
Tetapi teknologi yang seharusnya mempertemukan warga dengan redaksi justru tersendat oleh jaringan.
“Kami baru bisa mengecek semua atau mendalami informasi itu praktis setelah jam 1 siang,” kata Herry. Sebelum itu, terutama pengiriman foto dan video, banyak yang tertunda. Pesan teks masih dapat masuk, tetapi membutuhkan waktu.
Floresa juga tidak memiliki perangkat komunikasi alternatif. Tidak ada Starlink, HT, maupun radio yang dapat langsung digunakan ketika jaringan telepon dan internet terganggu. Herry mengatakan mereka hanya bisa menunggu listrik menyala kembali sambil berusaha mempertahankan komunikasi dengan reporter dan warga.
Namun, semakin jauh dari pusat kota, persoalannya menjadi lebih rumit.
Ketika Floresa hendak menyalurkan bantuan ke sebuah desa di Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, koordinator relawan di sana tidak dapat berkomunikasi dengan mudah dari kampungnya. Untuk mendapatkan akses Starlink, ia harus berjalan sekitar tiga kilometer melewati sungai. Setelah mencapai titik tersebut, barulah ia bisa menghubungi pihak lain dan menyampaikan kondisi di wilayahnya.
Di kampung, pesan kadang tidak benar-benar hilang. Ia hanya datang terlambat. Herry menggambarkan pesan yang baru masuk sekitar 30 menit setelah dikirim. Ada pula warga yang hanya bisa menggunakan pesan teks dan tidak dapat melakukan panggilan.
Bagi Herry, pengalaman itu memperlihatkan bahwa persoalan komunikasi dalam bencana tidak sesederhana ada atau tidak adanya batang sinyal di layar telepon. Jaringan yang tidak stabil dapat menentukan kapan sebuah foto sampai ke redaksi, kapan seorang relawan dapat meminta bantuan, atau kapan sebuah keluarga di luar daerah akhirnya mengetahui keadaan kerabatnya.
Herry juga mengatakan bahwa dalam situasi normal pun masih terdapat wilayah di NTT yang sulit mendapatkan jaringan. Ia menyebut Pulau Komodo sebagai salah satu contoh wilayah yang menurut pengalamannya memiliki keterbatasan konektivitas. Dalam kondisi bencana, keterbatasan tersebut menjadi lebih terasa karena belum tentu tersedia sistem komunikasi alternatif yang bisa segera digunakan.
“Ketika jaringan utama telekomunikasi itu terputus, setidaknya sudah ada yang antisipasi untuk menyediakan saluran-saluran alternatif lain,” ujarnya.
Cerita tentang bagaimana warga dan relawan menjaga komunikasi kemudian membawa kami lebih jauh ke wilayah Manggarai Timur.
Pada 26 Agustus, Reizha Ananda Setyara yang menjadi bagian tim KitaBisa tiba di sejumlah wilayah Manggarai. Mereka menemukan beberapa lokasi yang sebelumnya memiliki jaringan tetapi kehilangan sinyal setelah gempa. Di sejumlah wilayah lain, persoalannya bahkan lebih lama: tempat-tempat yang mereka datangi memang sudah memiliki keterbatasan akses telekomunikasi sebelum bencana.
Karena tidak dapat sepenuhnya mengandalkan jaringan seluler, tim membawa Starlink untuk membantu komunikasi internal. Perangkat tersebut menjadi penghubung bagi para relawan ketika mereka berada di wilayah tanpa sinyal. Namun Starlink bukan berarti membuat seluruh persoalan komunikasi selesai. Aksesnya digunakan terutama untuk kebutuhan koordinasi tim, sementara mereka tetap harus mencari cara lain untuk mengetahui kondisi warga di lapangan.
Media sosial justru menjadi salah satu sumber informasi penting bagi tim. Dari unggahan dan pesan warga, relawan dapat menemukan lokasi yang belum tersentuh bantuan atau mengetahui kondisi rumah dan lingkungan yang membutuhkan perhatian.
Setelah menemukan titik yang diduga membutuhkan bantuan, pekerjaan berikutnya adalah memastikan lokasinya.
Tanpa koneksi yang dapat diandalkan, tim menggunakan Google Maps, Google Earth, dan aplikasi pemetaan offline. Peta digital menjadi semacam petunjuk jalan untuk mencari rumah-rumah warga di wilayah yang sulit dijangkau. Dari layar, mereka mencoba membaca letak permukiman, jalan, dan titik yang dapat didatangi, lalu mencocokkannya dengan kondisi di lapangan.
Tetapi ketika komunikasi benar-benar tidak tersedia, bahkan peta digital tidak cukup untuk menyampaikan pesan.
Dalam kondisi darurat, Reizha mengatakan tim harus mengirim orang menggunakan motor atau mobil untuk membawa pesan dari satu titik ke titik lain. Pesan berpindah bersama tubuh manusia, menempuh jalan yang sama sulitnya dengan akses menuju lokasi bantuan.
“Motor atau mobil,” kata Reizha ketika menjelaskan cara mereka mengirim penghubung dalam kondisi darurat.
Di satu sisi, Starlink membantu relawan menjaga komunikasi internal. Di sisi lain, warga di sejumlah wilayah tetap bergantung pada orang yang datang dari tempat lain, pesan yang dititipkan, atau informasi yang ditemukan melalui media sosial.
Reizha sendiri menilai sistem telekomunikasi belum sepenuhnya dirancang untuk menghadapi kondisi bencana. Dalam pengamatannya, beberapa wilayah yang sebelumnya memiliki sinyal kehilangan akses setelah gempa, sementara wilayah pelosok yang mereka datangi memang sejak awal sulit terhubung. Karena itu, tim harus beradaptasi dengan pemetaan offline dan cara-cara komunikasi lain.
Di tempat-tempat ketika sinyal menghilang, manusia mengambil kembali peran yang selama ini sebagian telah digantikan oleh teknologi. Mereka berjalan membawa kabar. Mereka menitipkan pesan. Mereka mencari dataran tinggi, menyeberangi sungai, atau mengendarai motor dan mobil untuk menghubungkan satu titik dengan titik lain.
Membangun Infrastruktur Komunikasi yang Tetap Terhubung Saat Bencana
Untuk mencari jawaban mengenai bagaimana infrastruktur telekomunikasi seharusnya dipersiapkan menghadapi bencana, kami kemudian mencoba menghubungi Kementerian Komunikasi dan Digital.
Kami berkesempatan berbincang dengan Muhammad Faisal, Kepala Divisi Humas dan SDM Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI). Ia menjelaskan bahwa BTS yang terdampak dalam dua bencana yang kami telusuri merupakan infrastruktur yang berada di bawah kewenangan operator seluler. Karena itu, BAKTI tidak memberikan keterangan lebih jauh mengenai kondisi dan ketahanan jaringan operator saat bencana terjadi.
Untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut mengenai ketahanan infrastruktur jaringan seluler, kami kemudian diarahkan kepada Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital (DJID), kementerian yang menangani aspek tersebut. Kami telah mengirimkan permohonan wawancara secara elektronik kepada DJID, namun hingga artikel ini disusun, belum menerima tanggapan.
Kekosongan jawaban ini penting karena data pemerintah menunjukkan bahwa gangguan telekomunikasi bukan peristiwa satu kali. Penyebabnya juga berlapis, mulai dari listrik dan transmisi hingga akses fisik menuju lokasi BTS. Pada saat yang sama, pemerintah memang memiliki teknologi alternatif. Dalam penanganan bencana Sumatra, misalnya, pemerintah mengerahkan SATRIA-1 dan Starlink sebagai konektivitas darurat.
Pada hari-hari awal setelah gempa, tim Organisasi KitaBisa datang ke wilayah yang sulit dijangkau tanpa koneksi telepon maupun internet. Tim membawa Starlink untuk menjaga komunikasi, sementara informasi mengenai lokasi yang membutuhkan bantuan diperoleh melalui jaringan warga, media sosial, dan pemetaan menggunakan Google Maps serta Google Earth. Ketika semua jalur komunikasi tidak tersedia, cara yang paling sederhana kembali menjadi pilihan: mengirim orang secara langsung menggunakan motor atau mobil untuk membawa pesan.
Menurut Reizha, kondisi tersebut seharusnya tidak menjadi satu-satunya pilihan ketika bencana terjadi.
Ia melihat perlunya sistem komunikasi darurat yang sejak awal memang dirancang untuk bekerja ketika jaringan konvensional gagal. Infrastruktur telekomunikasi di wilayah rawan bencana, menurutnya, perlu memiliki jalur cadangan sehingga putusnya satu sistem tidak berarti terputusnya seluruh komunikasi.
Reizha juga mencontohkan Jepang sebagai salah satu negara yang dapat dipelajari Indonesia dalam membangun sistem peringatan bencana. Menurut pengalamannya, sistem di Jepang memungkinkan peringatan diberikan secara cepat dan langsung kepada masyarakat melalui perangkat yang mereka gunakan. Bagi Reizha, mekanisme semacam itu penting karena dalam bencana, beberapa detik atau menit dapat menentukan keputusan seseorang untuk menyelamatkan diri.
Namun, ketangguhan komunikasi tidak hanya bergantung pada perangkat dan jaringan. Listrik menjadi bagian lain yang tidak dapat dipisahkan. Ketika pasokan listrik terganggu dan infrastruktur pemancar mengalami kerusakan, koneksi ikut terputus. Karena itu, kesiapan menghadapi bencana juga berarti memastikan adanya sumber energi cadangan dan jalur komunikasi alternatif yang dapat bertahan ketika infrastruktur utama tidak berfungsi.
Di lapangan, persoalan lain muncul ketika komunikasi antara relawan dan pemerintah ikut terputus. Reizha mengatakan timnya tidak memiliki mekanisme komunikasi darurat khusus yang dapat digunakan ketika jaringan seluler mati. Akibatnya, sebagian koordinasi harus dilakukan secara langsung.
Bagi Reizha, pemerintah juga perlu memastikan bahwa respons terhadap wilayah yang terisolasi tidak ikut terhambat oleh hilangnya konektivitas. Ketika informasi dari sebuah desa tidak dapat keluar karena tidak ada sinyal, sistem tanggap bencana seharusnya memiliki cara lain untuk menemukan wilayah tersebut dan memastikan bantuan dapat masuk.
Pengalaman di NTT menunjukkan bahwa ketangguhan telekomunikasi bukan berarti membuat jaringan yang tidak pernah gagal. Bencana tetap dapat merusak BTS, memutus listrik, dan mengisolasi wilayah. Yang perlu dibangun adalah sistem yang tetap memiliki jalan keluar ketika kegagalan itu terjadi: peringatan yang cepat, komunikasi cadangan, sumber energi alternatif, pemetaan yang dapat digunakan secara offline, serta kanal yang memungkinkan warga, relawan, dan pemerintah tetap terhubung.
Ketika sebuah jaringan hilang, dampak yang dirasakan khususnya kaum rentan yang berada di pengungsian maupun warga yang masih terjebak meminta bantuan sangatlah fatal dan buruk. Perlu adanya jaringan alternatif yang dibangun dan sistem yang lebih siap untuk mewujudkan jaringan internet yang membuat rasa aman dan dapat terakses oleh semua orang.
Penulis: Fahran Wahyudi & Nesya Naila Naulia.



